COBA deh perhatikan panggung musik di Indonesia. Adakah grup band yang sama sekali tak pernah menggunakan gitar? Rasa-rasanya tidak ada, ya! Makanya, gitar bisa dibilang sebagai alat musik paling populer di dunia. Lagipula, alat ini memang mudah dijumpai di mana-mana. Orang yang bisa memainkannya pun sangaaaat… banyak!

Mulanya, orang mengira alat musik ini berasal dari negara Spanyol. Mungkin karena istilah gitar berasal dari bahasa Spanyol, guitarra latina. Sebenarnya sih, instrumen musik gonjrang-ganjreng ini berasal dari Mesir. Hanya memang, Spanyol adalah bangsa yang paling aktif mengembangkan dan memopulerkan gitar.

Sobat, jauh sebelum gitar muncul di Spanyol, benda ini terlebih dahulu dibuat serta dikembangkan di Mesir kuno, sekitar 5000 tahun silam. Nah, tahun 711, ketika bangsa Mor menyerang Spanyol, mereka membawa serta alat musik ini dari Afrika Utara ke Eropa. Pada masa itu, banyak prajurit Mor yang senang bersenandung sambil memetik gitar di malam hari. Bangsa Spanyol yang memiliki hasrat seni tinggi sangat tertarik begitu pertama kali melihat gitar.

Selain gitar yang biasa kita lihat sekarang, ada juga gitar arab (dalam bahasa Inggris disebut lute, dan bahasa Arabnya ud). Gitar arab ini merupakan nenek moyangnya gitar. Ud berbentuk dua lengkungan, mirip belahan buah pir dan berukuran kecil. Beberapa tahun kemudian, ud berkembang menjadi gitar besar dengan enam atau tujuh dawai, yang disebut vihuela. Vihuela ini disebut juga gitar kuno. Bentuknya lebih cekung dan sempit dibandingkan dengan gitar modern.

Meskipun bukan asli Spanyol, di akhir abad XVI, orang sering menyebut gitar sebagai instrumen tradisional Spanyol. Hal ini karena kemampuan orang Spanyol dalam mengembangkan produksi gitar dan memainkannya. Melalui Spanyol pula, gitar tersebar ke negara Eropa lain, di antaranya Italia dan Prancis pada 1620 dan 1626. Perlahan, gitar pun masuk ke Inggris.

Di abad XVI-XIX, gitar mengalami beberapa perubahan dari gitar empat dawai dan tiga dawai ganda, menjadi lima dawai ganda. Pada akhir abad XVIII, muncul gitar dengan enam dawai tunggal, dengan nada e, a, d, g, b, dan d.

Alat musik berdawai ini pun mencapai puncak kepopulerannya sebagai instrumen pengiring. Pemain gitar kelahiran Spanyol seperti Fernando Sor dan Andes Segivia pada abad XIX dan XX, berhasil membuktikan peran penting gitar sebagai instrumen musik utama.

Sekitar pertengahan abad XIX, pembuat gitar dari Spanyol, Antonio Tores Juardo, menyempurnakan sekaligus menciptakan bentuk dan ukuran gitar standar. Umumnya, gitar berbahan kayu ringan sedangkan dawainya dari perunggu, nilon, atau baja. Biasanya gitar memiliki enam dawai. Akan tetapi, ada juga yang empat atau dua belas dawai. Di masa yang hampir bersamaan, Francisco Tarrega, gitaris dan komposer Spanyol, menciptakan metode bermain gitar modern. Setelah berabad-abad, para pemusik memainkan gitar akustik (gitar biasa tanpa listrik). Pada 1936, muncullah gitar elektrik. Jenis ini mengandung perangkat elektromagnetik yang menyalurkan bunyi dawai melalui alat yang disebut dengan amplifier. Maka, ia dapat menghadirkan lebih banyak variasi nada dibanding dengan gitar akustik.

Selain gitar listrik, ada banyak jenis gitar dari berbagai daerah dengan kekhasan masing-masing. Di antaranya di Amerika, ada gitar berbentuk mirip buah pir dengan 6-14 dawai kawat. Di Indonesia ada siter Jawa. Ada lagi jarana dari Meksiko, serta charango dari Amerika Selatan, keduanya gitar kecil berdawai lima.

Seperti apa pun bentuknya, main gitar memang mengasyikkan. Semua jenis musik seperti jazz, dangdut, pop, dan lain-lainnya, bisa dimainkan dengan alat musik ini. Malah untuk permainan musik klasik, gitar bisa terdengar mirip piano. Artinya, musik pengiring, bas, serta melodinya bisa dimainkan sekaligus menggunakan satu gitar. Sobat-sobat juga senang mendengarnya kan? Siip…. lah.