Category: Alat musik


Demung

Demung adalah salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan.

Dalam satu set gamelan biasanya terdapat 2 demung, keduanya memiliki versi pelog dan slendro. Demung menghasilkan nada dengan oktaf terendah dalam keluarga balungan, dengan ukuran fisik yang lebih besar. Demung memiliki wilahan yang relatif lebih tipis namun lebih lebar daripada wilahan saron, sehingga nada yang dihasilkannya lebih rendah. Tabuh demung biasanya terbuat dari kayu, dengan bentuk seperti palu, lebih besar dan lebih berat daripada tabuh saron.

Cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara demung 1 dan demung 2, menghasilkan jalinan nada yang bervariasi namun mengikuti pola tertentu. Cepat lambatnya dan keras lemahnya penabuhan tergantung pada komando dari kendang dan jenis gendhingnya. Pada gendhing Gangsaran yang menggambarkan kondisi peperangan misalnya, demung ditabuh dengan keras dan cepat. Pada gendhing Gati yang bernuansa militer, demung ditabuh lambat namun keras. Ketika mengiringi lagu ditabuh pelan. Ketika sedang dalam kondisi imbal, maka ditabuh cepat dan keras.

Demung dan tabuh demung

Dalam memainkan demung, tangan kanan memukul wilahan / lembaran logam dengan tabuh, lalu tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa dari pemukulan nada sebelumnya. Teknik ini disebut memathet (kata dasar: pathet = pencet)

Calung

Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Pengertian calung selain sebagai alat musik juga melekat dengan sebutan seni pertunjukan. Ada dua bentuk calung Sunda yang dikenal, yakni calung rantay dan calung jinjing.

== Calung Rantay == Calung rantay bilah tabungnya dideretkan dengan tali kulit waru (lulub) dari yang terbesar sampai yang terkecil, jumlahnya 7 wilahan (7 ruas bambu) atau lebih. Komposisi alatnya ada yang satu deretan dan ada juga yang dua deretan (calung indung dan calung anak/calung rincik). Cara memainkan calung rantay dipukul dengan dua tangan sambil duduk bersilah, biasanya calung tersebut diikat di pohon atau bilik rumah (calung rantay Banjaran-Bandung), ada juga yang dibuat ancak “dudukan” khusus dari bambu/kayu, misalnya calung tarawangsa di Cibalong dan Cipatujah, Tasikmalaya, calung rantay di Banjaran dan Kanekes/Baduy.

Calung Jingjing

Adapun calung jinjing berbentuk deretan bambu bernada yang disatukan dengan sebilah kecil bambu (paniir). Calung jinjing terdiri atas empat atau lima buah, seperti calung kingking (terdiri dari 12 tabung bambu), calung panepas (5 /3 dan 2 tabung bambu), calung jongjrong(5 /3 dan 2 tabung bambu), dan calung gonggong (2 tabung bambu). Kelengkapan calung dalam perkembangannya dewasa ini ada yang hanya menggunakan calung kingking satu buah, panempas dua buah dan calung gonggong satu buah, tanpa menggunakan calung jongjrong Cara memainkannya dipukul dengan tangan kanan memakai pemukul, dan tangan kiri menjinjing/memegang alat musik tersebut. Sedangkan teknik menabuhnya antar lain dimelodi, dikeleter, dikemprang, dikempyung, diraeh, dirincik, dirangkep (diracek), salancar, kotrek dan solorok.

Perkembangan

Jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal secara umum yaitu calung jinjing. Calung jinjing adalah jenis alat musik yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Sunda, misalnya pada masyarakat Sunda di daerah Sindang Heula – Brebes, Jawa tengah, dan bisa jadi merupakan pengembangan dari bentuk calung rantay. Namun di Jawa Barat, bentuk kesenian ini dirintis popularitasnya ketika para mahasiswa Universitas Padjadjaran (UNPAD) yang tergabung dalam Departemen Kesenian Dewan Mahasiswa (Lembaga kesenian UNPAD) mengembangkan bentuk calung ini melalui kreativitasnya pada tahun 1961. Menurut salah seorang perintisnya, Ekik Barkah, bahwa pengkemasan calung jinjing dengan pertunjukannya diilhami oleh bentuk permainan pada pertunjukan reog yang memadukan unsur tabuh, gerak dan lagu dipadukan. Kemudian pada tahun 1963 bentuk permainan dan tabuh calung lebih dikembangkan lagi oleh kawan-kawan dari Studiklub Teater Bandung (STB; Koswara Sumaamijaya dkk), dan antara tahun 1964 – 1965 calung lebih dimasyarakatkan lagi oleh kawan-kawan di UNPAD sebagai seni pertunjukan yang bersifat hiburan dan informasi (penyuluhan (Oman Suparman, Ia Ruchiyat, Eppi K., Enip Sukanda, Edi, Zahir, dan kawan-kawan), dan grup calung SMAN 4 Bandung (Abdurohman dkk). Selanjutnya bermunculan grup-grup calung di masyarakat Bandung, misalnya Layung Sari, Ria Buana, dan Glamor (1970) dan lain-lain, hingga dewasa ini bermunculan nama-nama idola pemain calung antara lain Tajudin Nirwan, Odo, Uko Hendarto, Adang Cengos, dan Hendarso.

Perkembangan kesenian calung begitu pesat di Jawa Barat, hingga ada penambahan beberapa alat musik dalam calung, misalnya kosrek, kacapi, piul (biola) dan bahkan ada yang melengkapi dengan keyboard dan gitar. Unsur vokal menjadi sangat dominan, sehingga banyak bermunculan vokalis calung terkenal, seperti Adang Cengos, dan Hendarso.

Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang. Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik. Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu salat atau sembahyang. Bedug terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih. Bagian tengah batang dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Ujung batang yang berukuran lebih besar ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.

Sejarah Bedug

Bedug sebenarnya berasal dari India dan Cina. Berdasarkan legenda Cheng Ho dari Cina, ketika ketika Laksamana Cheng Hoo datang ke Semarang, mereka disambut baik oleh Raja Jawa pada masa itu. Kemudian, ketika Cheng Ho hendak pergi, dan hendak memberikan hadiah, raja dari Semarang mengatakan bahwa dirinya hanya ingin mendengarkan suara bedug dari masjid. Sejak itulah, bedug kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti di negara Cina, Korea dan Jepang, yang memposisikan bedug di kuil-kuil sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengani waktu shalat atau sembahyang. Saat Orba berkuasa bedug pernah dikeluarkan dari surau dan mesjid karena mengandung unsur-unsur non-Islam. Bedug digantikan oleh pengeras suara. Hal itu dilakukan oleh kaum Islam modernis, namun warga NU melakukan perlawanan sehingga sampai sekarang dapat terlihat masih banyak masjid yang mempertahankan bedug.

Fungsi bedug
Fungsi sosial : bedug berfungsi sebagai alat komunikasi atau petanda kegiatan masyarakat, mulai dari ibadah, petanda bahaya, hingga petanda berkumpulnya sebuah komuntas.
Fungsi estetika : bedug berfungsi dalam pengembangan dunia kreatif, konsep, dan budaya material musikal.

Cara pembuatan bedug sederhana

Pada awalnya, kambing atau sapi dikuliti. Kulit hewan yang biasa dibuat sebagai bahan baku bedug antara lain kulit kambing, sapi, kerbau, dan banteng. Kulit sapi putih memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan kulit sapi coklat. Sebab, kulit sapi putih lebih tebal daripada kulit sapi coklat, sehingga bunyi yang dihasilkannya akan berbeda disamping, keawetannya yang lebih rendah. Kemudian, kulit tersebut direndam ke dalam air detergen sekitar 5-10 menit. Jangan terlalu lama agar tidak rusak. Lalu, kulit dijemur dengan cara dipanteng (digelar) supaya tidak mengerut. Setelah kering, diukur diameter kayu yang sudah dicat dan akan dibuat bedug. Seteleh selesai diukur, kulit tersebut dipasangkan pada kayu bonggol kayu yang sudah disiapkan. Proses penyatuan kulit hewan dengan kayu dilakukan dengan paku dan beberapa tali-temali.

Permainan Bedug (Seni Ngadulag)

Seni ngadulag berasal dari daerah Jawa Barat. Pada dasarnya, bedug memiliki fungsi yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, tabuhan bedug di tiap-tiap daerah memiliki perbedaan dengan daerah lainnya, sehingga menjadikannya khas. Sehingga lahirlah sebuah istilah “Ngadulag” yang menunjuk pada sebuah keterampilan menabuh bedug. Kini keterampilan menabuh bedug telah menjadi bentuk seni yang mandiri yaitu seni Ngadulag (permainan bedug). Di daerah Bojonglopang, Sukabumi, seni ngadulag telah menjadi sebuah kompetisi untuk mendapatkan penabuh bedug terbaik. Kompetisi terbagi menjadi 2 kategori, yaitu keindahan dan ketahanan. Keindahan mengutamakan irama dan ritme tabuhan bedug, sedangkan ketahanan mengutamakan daya tahan menabuh atau seberapa lama kekuatan menabuh bedug. Kompetisi ini diikuti oleh laki-laki dan perempuan. Dari permainan inilah seni menabuh bedug mengalami perkembangan. Dahulu, peralatan seni menabuh bedug hanya terdiri dari bedug, kohkol, dan terompet. Tapi kini peralatannya pun mengalami perkembangan. Selain yang telah disebutkan di atas, menabuh bedug kini juga dilengkapi dengan alat-alat musik seperti gitar, keyboard, dan simbal.

Bedug terbesar di dunia
Bedug terbesar di dunia berada di dalam Masjid Darul Muttaqien, Purworejo. Bedug ini merupakan karya besar umat Islam yang pembuatannya diperintahkan oleh Adipati Tjokronagoro I, Bupati Purworejo pertama. dibuat pada tahun 1762 Jawa atau 1834 M. Dan diberi nama Kyai Begelan. Ukuran atau spesifikasi bedug ini adalah : Panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm, diameter bagian belakang 180 cm. Bagian yang ditabuh dari bedug ini dibuat dari kulit banteng. Bedug raksasa ini dirancang sebagai “sarana komunikasi” untuk mengundang jamaah hingga terdengar sejauh-jauhnya lewat tabuhan bedug sebagai tanda waktu sholat menjelang adzan dikumandangkan.

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Asal-usul Angklung
Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.

Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Angklung Kanekes

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

Angklung Dogdog Lojor

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.

Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).

Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.

Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.

Buncis

Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle…, dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik mambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.

Tambura

tambura (Devanagari: तम्पूरा) adalah memetik kecapi berleher panjang, sebuah alat musik gesek yang ditemukan dalam berbagai versi di berbagai tempat. The Tambora (Marathi), tambura (India Selatan), tamburo (Gujarati), atau tanpura (india Utara) dalam bentuk tubuh yang agak mirip dengan sitar, tetapi tidak memiliki frets, hanya sebagai senar terbuka dimainkan sebagai iringan harmonik musisi lainnya. Itu memiliki empat atau lima (jarang, enam) senar kawat, yang dipetik satu demi satu dalam sebuah pola teratur untuk menciptakan resonansi harmonik pada catatan dasar (Bourdon atau fungsi dengung).

Tanpuras datang dalam berbagai ukuran dan pitches: lebih besar “laki-laki” dan lebih kecil “perempuan” untuk vokalis tapi versi kecil yang digunakan untuk menemani sitar atau sarod, disebut tamburi atau tanpuri. Penyanyi laki-laki catatan lapangan tonik mereka (Sa) menjadi sekitar C #, penyanyi perempuan yang lebih tinggi biasanya yang kelima. Instrumen laki-laki memiliki panjang string terbuka approx. satu meter, yang betina berukuran turun ke 3 / 4. Standar tuning adalah 5.881, sol do ‘do’ lakukan, atau di India sargam: PA sa sa SA. Untuk menghilangkan ragas yang kelima, string pertama akan disetel ke alam keempat: 4.881 atau Ma Sa sa sa. Beberapa ragas memerlukan tuning kurang umum dengan shuddh NI (sem / tone di bawah oktaf sa): NI sa sa SA. Dengan lima-string instrumen, ketujuh atau NI (alam kecil atau mayor 7) ditambahkan: PA NI sa sa SA (57.881) atau MA NI sa sa SA (47.881). Nama ‘tanpura’ mungkin berasal dari tana, merujuk pada frase musik, dan pura yang berarti “penuh” atau “lengkap”. Baik dalam fungsi musik dan bagaimana cara kerjanya, yang tanpura adalah instrumen yang unik dalam banyak cara. Ia tidak mengambil bagian di bagian melodi musik tetapi mendukung dan memelihara melodi dengan memberikan yang sangat penuh warna dan dinamis bidang resonansi harmonik berdasarkan salah satu nada yang tepat, perhatikan dasar atau kunci-catatan. Nada khusus suara kaya dicapai dengan menerapkan prinsip jivari yang menciptakan berkelanjutan, “berdengung” suara yang harmonik tertentu akan beresonansi dengan kejelasan terfokus. ‘Jiva’ mengacu kepada ‘jiwa’, bahwa yang memberi hidup. Apa yang tersirat adalah bahwa sebuah ‘animasi’ nada-kualitas adalah ide yang mewujudkan tanpura. Prinsip jivari dapat disamakan dengan pembiasan prisma cahaya putih ke dalam warna-warna pelangi, sebagai prinsip kembar akustik di tempat kerja.

Contoh tambura

Untuk mencapai efek ini, tali melewati lebar, melengkungkan jembatan-piece, bagian depan jembatan miring lembut menjauh dari bawah senar. Ketika memetik senar, itu akan memiliki berkala intermiten kontak dengan jembatan pada suatu titik dekat tepi depan. Sebentar-sebentar ini merumput jembatan tali dan bukanlah proses yang statis, sebagai titik kontak akan berangsur-angsur bergeser, menjadi fungsi senyawa amplitudo dan kelengkungan tali jembatan dan ketegangan. Ketika memetik senar memiliki amplitudo yang besar, bergerak naik dan turun dan menghubungi jembatan pada fase bawah. Sebagai energi gerakan string secara bertahap berkurang, titik kontak senar dengan perlahan-lahan jembatan ngeri menaiki lereng ke puncak jembatan menuju titik nol ketika string akhirnya datang untuk beristirahat. (tergantung pada skala dan lapangan, hal ini bisa memakan waktu antara 3 dan 10 detik) sonik dinamis ini proses dapat melakukan fine-tuned menggunakan benang katun antara tali dan jembatan. Dengan menggeser benang teliti, seluruh proses dinamis kontak sedang merumput juga dialihkan ke posisi yang berbeda di jembatan, dengan demikian mengubah konten harmonik. Setiap string cascading memproduksi sendiri berbagai harmonik dan pada saat yang sama membangun resonansi tertentu. Jelas, ini menghasilkan keragaman harmonik kemungkinan. Menurut prinsip halus ini yang paling penuh perhatian tanpuras disetel untuk mencapai tonal warna tertentu dalam fungsi intonasi yang berhubungan dengan kualitas dari raga.

Ini lebih halus aspek tuning secara langsung berhubungan dengan apa yang musisi India panggilan ‘svaroop raga’, yang adalah tentang bagaimana ciri khas intonasi nada memperkuat kesan raga tertentu. Tertentu yang set-up dari tanpura dengan sonic-prismatik disesuaikan fungsi jembatan melengkung dan benang memungkinkan untuk mengeksplorasi banyak hubungan harmonis halus yang dihasilkan oleh interaksi harmonis dari empat senar. Secara teoritis, setidaknya, ini adalah alat yang dirancang untuk melakukan. Namun, tampaknya bahwa kesenian tingkat ini perlahan-lahan terkubur oleh penggunaan umum siap diakses tanpura elektronik, yang tidak alami ini mampu menghasilkan keragaman sebagai salah satu ‘standar’ suara per pengaturan.

Tanpuras dirancang dalam tiga gaya yang berbeda:
Miraj gaya: bentuk favorit Hindustan tanpura untuk penampil. Biasanya antara tiga untuk lima kaki panjang, dengan baik-bulat resonator pelat (tabli) dan yang panjang, kosong lurus leher. Bulat majelis rendah di mana tabli, penghubung tumit-potong dan leher (dandh) adalah tetap sebenarnya yang dipilih dan kering labu (tumba). Kayu yang digunakan adalah baik tun atau jati, jembatan biasanya dipotong dari sepotong tulang.
Gaya Tanjore: ini adalah India selatan gaya tambura, digunakan secara luas oleh Carnatic music performers. Memiliki bentuk yang agak berbeda dan gaya dekorasi dari yang Miraj, tetapi jika tidak banyak ukuran yang sama. Biasanya, tidak ada labu digunakan, tetapi berbentuk bola mencungkil bagian dari balok kayu solid. Leher agak lebih kecil diameternya. Jackwood digunakan di seluruh, jembatan biasanya dipotong dari sepotong kayu. Sering kali dua mawar yang dibor keluar dan dihiasi dengan inlaywork.
Tamburi: instrumen skala kecil, yang digunakan untuk menemani soloists instrumental. Itu dua atau tiga kaki panjang, dengan tempat tidur rata-panci kayu jenis tubuh dengan sedikit melengkung tabli. Mungkin peroleh dari empat untuk enam senar. Tamburi yang disetel ke oktaf lebih tinggi dan merupakan instrumen pilihan untuk menemani penampilan solo-string-bermain seniman, sebagai yang lebih ringan, lebih transparan suara tidak menghilangkan daftar bawah sebuah sitar, sarod, atau sarangi.

sarod adalah alat musik dawai, yang digunakan terutama dalam musik klasik India. Seiring dengan sitar, itu adalah yang paling populer dan instrumen menonjol dalam bahasa Hindustan (India utara) musik klasik. Yang dikenal sarod mendalam, berat, introspektif suara (kontras dengan manis, nada-kaya tekstur sitar) dengan simpatik senar yang memberi itu resonan, kualitas bergema. Ini adalah instrumen fretless mampu menghasilkan slide yang berkesinambungan antara catatan yang dikenal sebagai meend (glissandi), yang sangat penting untuk musik India.

Asal-usul

Yang sarod dipercaya oleh beberapa orang untuk memiliki keturunan dari Afghanistan rubab, instrumen serupa yang berasal dari Asia Tengah dan Afghanistan. Ini adalah India [1] Nama Sarod diterjemahkan secara kasar untuk “suara indah” atau “melodi” di Persia (yang merupakan salah satu dari banyak bahasa yang digunakan di Afghanistan). Meskipun telah sarod disebut sebagai “bass rebab” [2] dengan rentang pitch hanya sedikit lebih rendah daripada yang rubab. Lalmani Misra opines dalam Sangeet Bharatiya Vadya bahwa sarod adalah penggabungan chitra kuno Veena, yang rebab abad pertengahan dan modern sursingar. Ada juga spekulasi bahwa oud mungkin asal sarod. Di antara banyak yang saling bertentangan dan ditentang sejarah dari Sarod, ada satu yang atribut penemuannya kepada nenek moyang zaman sekarang Sarod maestro, Amjad Ali Khan. Amjad Ali Khan ‘s leluhur Mohammad Khan Bangash Hashmi, seorang musisi dan horsetrader, datang ke India dengan Rabab Afghanistan pada pertengahan 1700-an dan menjadi pemusik istana dengan Maharajah Rewa (sekarang di Madhya Pradesh). Itu adalah keturunan-terutama cucunya Ghulam Ali Khan Bangash yang menjadi pemusik istana di Gwalior – yang secara bertahap yang Rabab pepo ke sarod kita kenal sekarang. [3]. Sebuah teori paralel kredit keturunan Madar Khan (1701-1748) – Niyamatullah Khan khususnya-dengan inovasi yang sama sekitar tahun 1820. Ada kemungkinan bahwa Ghulam Ali Khan dan Niyamatullah Khan datang ke desain serupa, baik proposisi diakui mandiri atau kolaborasi. The sarod dalam bentuk dikenali sekarang tanggal kembali ke c.1820, ketika mulai memperoleh pengakuan sebagai instrumen yang serius di Rewa, Shahjahanpur, Gwalior dan Lucknow. Pada abad kedua puluh, sarod menerima beberapa sentuhan akhir dari Allauddin Khan, para artis-pedagog dari Maihar paling dikenal sebagai Ravi Shankar dan Ali Akbar Khan ‘s guru.

Detil dari sarod

Desain instrumen tergantung pada sekolah (gharana) bermain. Dibedakan ada tiga jenis, dibahas di bawah ini.
Sarod konvensional adalah 17-19 – dawai kecapi-seperti alat – Empat untuk lima senar utama yang digunakan untuk memainkan melodi, satu atau dua drone string, dua string dan chikari sembilan hingga sebelas simpatik string. Perancangan model awal ini biasanya dikreditkan ke Niyamatullah Khan Gharana Lucknow serta Ghulam Ali Khan Bangash Gwalior-Gharana. Di antara pemain sarod kontemporer, desain dasar ini tetap utuh oleh dua aliran sarod bermain. Amjad Ali Khan dan murid-muridnya bermain model ini, seperti yang dilakukan para pengikut Mohan Radhika Maitra. Kedua Amjad Ali Khan dan Buddhadev Dasgupta telah memperkenalkan perubahan kecil pada masing-masing instrumen yang telah menjadi desain template untuk para pengikut mereka. Kedua musisi menggunakan sarods terbuat dari kayu jati, dengan wajah bermain penuh dengan kambing kulit. Dasgupta Buddhadev lebih suka stainless steel yang dipoles fingerboard untuk kemudahan pemeliharaan sementara Amjad Ali Khan konvensional menggunakan krom atau nikel berlapis baja cor fingerboard. Secara visual, kedua varian yang sama, dengan enam pasak di pegbox utama, dua bulat chikari pasak dan 11 (Amjad) untuk 15 (Buddhadev) simpatik senar. Keturunan Niyamatullah Khan (yaitu Ghulfam Irfan Khan dan Khan) juga memainkan instrumen serupa. Pengikut Radhika Maitra Mohan masih membawa kedua resonator sarods mereka. Amjad Ali Khan dan para pengikutnya telah menolak resonator sama sekali.

(Dua dari sarodes awal konser masih dalam sirkulasi. Sarodes Ini adalah dibangun untuk Niyamatullah Khan (c. 1840) dan untuk Murad Ali Khan (c. 1860). Keduanya telah melihat luas digunakan selama lebih dari lima generasi, dan sempurna kondisi bermain. Sebagai hasil dari kebangkitan kedua awal prototip, yaitu teori yang menyatakan abad ke-20 varian untuk mewakili desain sarod puncak, menghadapi tantangan serius dan kredibel. sarod The Murad Ali, khususnya, telah akustik mempertahankan dan proyeksi yang melebihi orang-varian modern oleh margin yang cukup besar. Pada sarod ini, adalah mungkin untuk mempertahankan meends hingga sepuluh seluruh nada pada satu tali, hanya dengan satu stroke ke bawah.)

Mereka tune instrumen mereka ke B, yang merupakan pengaturan tradisional.
Jenis lain adalah bahwa dirancang oleh Allauddin Khan dan saudaranya Ayet Ali Khan. Instrumen ini, yang disebut oleh David Trasoff (Trasoff, 2000) sebagai Maihar Prototipe 1934, lebih besar dan lebih panjang dari instrumen konvensional, meskipun nada identik dengan sarod tradisional yang dijelaskan di atas. Instrumen ini memiliki 25 senar dalam semua. Ini termasuk empat senar utama, empat JOD string (disetel untuk Ni atau Dha, R / r, G / g dan Sa masing-masing), dua chikari string (disetel ke Sa dari atas oktaf) dan lima belas TARAB string. Senar utama disetel untuk Ma ( “fa”), Sa ( “melakukan”), lebih rendah Pa ( “begitu”) dan menurunkan Sa, memberikan berbagai instrumen tiga oktaf. Sarod yang cocok Maihar sangat baik untuk presentasi alap dengan empat senar JOD memberikan latar belakang yang membantu mengantar dalam suasana dari raga. Varian ini adalah, bagaimanapun, tidak kondusif untuk kinerja bersih tangan kanan memetik senar individual. Mereka menyetel ke C.

Sarod string dibuat baik dari baja atau fosfor perunggu. Kebanyakan pemain menggunakan sarod kontemporer Roslau, Schaff atau merek Precision musik kawat. Tali dipetik dengan segitiga plectrum (java) yang terbuat dari dipoles kelapa tempurung, ebony, Delrin TM atau bahan lain seperti tulang.
[Sunting]
Bermain

Kurangnya frets dan ketegangan dari string membuat sarod instrumen yang sangat menuntut untuk bermain, seperti string harus ditekan keras terhadap fingerboard.

Ada dua pendekatan untuk menghentikan tali dari sarod. Satu melibatkan menggunakan salah satu ujung kuku untuk menghentikan tali kekuatan dan kekakuan tertentu dari kuku merupakan prasyarat untuk akurasi lemparan. Yang lain menggunakan kombinasi dari kuku dan ujung jari untuk menghentikan senar terhadap fingerboard. [3] Teknik yang menggunakan kuku menghasilkan dering nada, sementara ujung jari teknik menghasilkan nada datar. Satu harus menambahkan, dalam napas yang sama, bahwa Maestro Ali Akbar Khan dan Rai Vasant mampu menghasilkan terang, bahkan nada dering dengan kapalan, sebagai tahun prakteknya telah mengeras menuntut mereka sangat besar.

Teknik meraba tangan kiri dari sarod tidak serta-didefinisikan sebagai seharusnya agar sarod pemain di seluruh papan untuk memahami satu sama lain. Meraba teknik dan bagaimana mereka diajarkan sangat tergantung pada preferensi pribadi musisi dan bahkan tidak dibedakan berdasarkan afiliasi sekolah. Radhika Mohan Maitra, misalnya, menggunakan indeks, tengah dan jari manis tangan kirinya untuk menghentikan string, seperti pengikut Allauddin Khan lakukan. Maitra, bagaimanapun, membuat jauh lebih banyak menggunakan kuku ketiga untuk slide dan palu. Amjad Ali Khan, sementara anggota sekitar sekolah gaya yang sama seperti Radhika Mohan, lebih suka menggunakan hanya indeks dan jari tengah tangan kirinya. Amjad Ali Namun, sekitar tahun 1960 membayangkan bermain dengan tiga jari. Seseorang dapat berspekulasi, mungkin, bahwa Amjad Ali beralih ke jari dua teknik adalah hasil dari pengaruh besar Vilayat sitarist Khan memiliki kepadanya.

Sejarah Sejarah instrumen ini tidak pasti, dan telah menjadi subyek perdebatan sengit yang kadang-kadang. Rebecca Stewart usul itu kemungkinan besar hibrida yang dihasilkan dari eksperimen dengan drum yang ada seperti pakhawaj, dholak dan naqqara. Asal-usul tabla repertoar dan teknik dapat ditemukan dalam ketiga dan dalam struktur fisik ada juga unsur-unsur dari semua tiga: kepala yang lebih kecil untuk pakhawaj dayan, maka gendang untuk naqqara bayan, dan penggunaan yang fleksibel bass dari dholak. Pemain sitar Shahid Parvez Khan di konser ditemani oleh penyihir Tabla besar dari Gharana Benaras Pandit Samta Prasad

Account legendaris umum kredit abad ke-13 India penyair Amir Khusrau sebagai penemu dengan memisahkan satu drum pakhawaj menjadi dua. ( ‘Thoda, tab bhi bola – tabla’: ‘Ketika patah, itu masih berbicara’ – yang cukup terkenal, meskipun hampir pasti mitos Hindi pun) Tidak satu pun dari tulisan-tulisannya menyebut musik drum, tapi jelas ini tradisi akhir-akhir ini penemuan , dikombinasikan dengan tidak adanya instrumen musik India Selatan dan tertutup, pasangan itu desain yang berhubungan dengan tanah liat Barat-drum dan timpani, sekaligus mendukung pandangan bahwa tabla adalah relatif perkembangan terbaru di bagian utara India musik. Bukti-bukti sejarah yang dapat dipercaya. Tempat penemuan alat ini di abad ke-18, dan diverifikasi pertama pemain drum ini adalah Ustad Suddhar Khan dari Delhi.

Muktesvara candi (6th-abad ke-7) dan Bhuranesvara (dan tiga candi gua lain) dari Badari di Bombay (abad ke-6) mengandung penggambaran puskara drum. Musisi sering meletakkan puskara drum vertikal lebih kecil (disebut ‘alinga’), di pangkuan mereka dan bermain lebih dari satu drum pada satu waktu.

Serupa instrumen regional termasuk dukkar Punjabi, para dukra Kashmir, yang duggi di bagian timur Uttar Pradesh, dan mridangam. The mridangam (setara Selatan Utara pakhavaj) adalah drum utama di India Selatan Carnatic music. The dhol (dholak) dari timur Afghanistan adalah terkait dalam hal konstruksi dan gaya bermain. Perbedaan utama adalah tabla pasangan dua jenis yang berbeda satu-headed drum, sedangkan dukkar, dukra, dan duggi adalah pasangan dari jenis yang sama dan mridangam dan dhol berkepala ganda, gentong drum.

Tatanama dan konstruksi

Drum yang lebih kecil, bermain dengan tangan yang dominan, kadang-kadang disebut dayan (lit. “benar”; alias dāhina, siddha, chattū) tetapi adalah benar disebut “tabla.” Itu dibuat dari sepotong kerucut sebagian besar kayu jati dan kayu dilubangi kira-kira setengah dari total kedalaman. Drum disetel catatan tertentu, biasanya baik tonik, dominan atau subdominant dari pemain solo kunci dan dengan demikian melengkapi melodi. Tuning rentang yang terbatas meskipun Dayan berbeda-s diproduksi dalam berbagai ukuran, masing-masing dengan kisaran yang berbeda. Kayu berbentuk silinder blok, yang dikenal sebagai ghatta, dimasukkan antara tali dan membiarkan ketegangan shell harus disesuaikan dengan posisi vertikal mereka. Fine tuning dicapai sementara mencolok dikepang vertikal di bagian kepala dengan menggunakan palu kecil.

Drum yang lebih besar, bermain dengan tangan yang lain, disebut bayan (lit. “kiri”; alias dagga, duggī, Dhama). The bayan memiliki jauh lebih dalam bass nada, mirip dengan sepupu jauh, maka drum ketel. Yang bayan dapat dilakukan dari manapun sejumlah bahan. Kuningan adalah yang paling umum, tembaga lebih mahal, tetapi pada umumnya diselenggarakan untuk menjadi yang terbaik, sementara aluminium dan baja sering ditemukan dalam model murah. Satu kadang-kadang menemukan bahwa kayu yang digunakan, terutama dalam bāyāñs tua dari Punjab. Clay juga digunakan, meskipun tidak disukai untuk daya tahan; ini umumnya ditemukan di wilayah Timur Laut Benggala.

Kedua drum kerang ditutupi dengan kepala (atau puri) dibangun dari kambing atau kulit sapi. Sebuah lingkaran luar kulit (keenar) adalah disalut pada kulit utama dan berfungsi untuk menekan beberapa nada alam. Kedua kulit terikat bersama-sama dengan anyaman yang kompleks kepang yang memberikan kekuatan yang cukup perakitan untuk tensioned pada shell. Kepala ditempelkan pada drum shell dengan satu sapi atau unta menyembunyikan tali bertali antara kepala kepang perakitan dan cincin yang lain (yang terbuat dari bahan tali yang sama) ditempatkan pada bagian bawah drum.

Para kepala dari setiap drum yang memiliki batin yang disebut syahi (lit. “tinta”; alias Shai atau mengobrol). Ini dibangun menggunakan beberapa lapisan dari tuning pasta yang dibuat dari pati (beras atau gandum) dicampur dengan bubuk hitam dari berbagai asal-usul. Konstruksi yang tepat dan membentuk daerah ini bertanggung jawab untuk modifikasi drum bernuansa alami, sehingga di lapangan dan kejelasan berbagai kemungkinan nada khas instrumen ini. Keterampilan yang tepat diperlukan untuk pembangunan daerah ini sangat halus dan merupakan faktor pembeda utama dalam kualitas instrumen tertentu.

Untuk stabilitas ketika sedang bermain, masing-masing drum diposisikan pada toroida bungkusan yang disebut chutta atau guddi, yang terdiri dari serat tanaman atau bahan lunak lain yang terbungkus kain.

Gharānā – tabla tradisi Istilah gharānā digunakan untuk menentukan garis keturunan pengajaran dan repertoar dalam musik klasik India. Kebanyakan artis dan sarjana mengenali dua gaya tabla gharana: Dilli Baj Baj dan Purbi. Dilli (atau Delhi) BAJ berasal dari gaya yang dikembangkan di Delhi, dan Purbi (berarti timur) BAJ dikembangkan di daerah timur Delhi. Delhi Baj juga dikenal sebagai Chati BAJ (Chati adalah bagian dari Tabla dari mana nada khusus yang dapat dihasilkan).

Musisi kemudian mengenali enam gharānās – sekolah atau tradisi – dari tabla. Tradisi ini muncul atau mungkin berkembang dalam urutan sebagai berikut:

-Delhi gharānā
-Lucknow gharānā
-Ajrara gharānā kemudian diikuti oleh
-Farukhabad gharānā
-Benares gharānā
-Punjab gharānā

Pemain tabla lainnya telah mengidentifikasi lebih lanjut turunan dari tradisi di atas, tetapi ini tidak klaim subjektif yang diakui secara universal. Beberapa tradisi memang mempunyai sub-garis keturunan dan sub-gaya yang memenuhi kriteria untuk menjamin nama gharānā terpisah, namun seperti sosio -musik identitas tidak diambil terus dalam wacana publik seni musik Hindustan, seperti keturunan Qasur pemain tabla wilayah Punjab.

Setiap gharānā secara tradisional terpisah dari yang lain dengan aspek-aspek unik dari komposisi dan gaya bermain dari para pendukungnya. Misalnya, beberapa gharānās berbeda posisi tabla dan bol teknik. Pada hari-hari pengadilan perlindungan pelestarian perbedaan ini penting untuk mempertahankan prestise mensponsori pengadilan. Gharānā rahasia yang dijaga ketat dan sering hanya lewat di sepanjang garis keluarga. Lahir ke dalam atau menikah ke dalam garis keturunan keluarga sering memegang satu-satunya cara untuk memperoleh akses ke pengetahuan ini.

Saat ini banyak perbedaan gharānā ini telah dikaburkan sebagai informasi telah lebih leluasa berbagi dan pemain generasi baru telah belajar dan gabungan dari beberapa aspek gharānās untuk membentuk gaya mereka sendiri. Ada banyak perdebatan mengenai apakah konsep gharānā bahkan masih berlaku pemain modern. Sebagian orang berpendapat era gharānā secara efektif telah berakhir sebagai aspek-aspek unik dari masing-masing telah gharānā sebagian besar hilang melalui pencampuran dari gaya dan kesulitan sosial-ekonomi untuk menjaga kemurnian garis keturunan melalui pelatihan yang keras.

Namun kebesaran masing-masing gharānā masih dapat diamati melalui kajian dari bahan tradisional dan, ketika diakses, rekaman dari pemain hebat. Generasi sekarang dari empu yang terlatih secara tradisional masih memegang sejumlah besar komposisi tradisional pengetahuan dan keahlian.

Badan ini komposisi pengetahuan dan dasar teoretis yang rumit yang menginformasikan itu masih aktif sedang dikirim dari guru kepada siswa di seluruh dunia. Selain instrumen itu sendiri, tabla istilah ini sering digunakan dalam referensi pengetahuan ini dan proses dari transmisi.

Tabla terminologi

Strings – seorang ahli teknik dan tabla gharana, atau sekolah. Hindu disebut sebagai Pandit.
Gharana – salah satu dari enam sekolah (gharana Punjab, Delhi gharana, Benares, Ajrara, Lucknow, Farukhabad) dari tabla.
Syahi – bintik-bintik hitam pada tabla, juga disebut mengobrol. Terdiri dari pasta kering yang berasal dari besi dan diterapkan di beberapa lapisan terpisah kepada kepala drum. Kadang-kadang disebut shyani.
Keenar – cincin luar kulit di kepala masing-masing dua drum tabla. Dalam bahasa Hindi, yang dikenal sebagai chatting.
Sur – Daerah antara gaab dan keenar. Dalam bahasa Hindi, yang dikenal sebagai maidan.
bol – baik mnemonic suku kata dan serangkaian catatan yang dihasilkan ketika mengelus. Eg Na, timah, Dha, Dhin, Ge, Ke, dll
Theka – serangkaian standar bols yang membentuk irama iringan tabla dasar untuk suatu tala.
Real – semacam drum-roll cepat.
Chutta – bantal yang digunakan ketika menempatkan tabla.
Baj, Baaj, atau Baz – gaya bermain, berbeda dari gharānā. Dua gaya utama yang dikembangkan, Purbi Baj Baj dan Dilli. Dilli, atau Delhi, BAJ adalah gaya * bols dan bermain yang berasal di kota Delhi. Purbi (berarti “timur”) yang dikembangkan di wilayah timur delhi. Keduanya memiliki cara yang berbeda untuk bermain bols.
Bayan atau Duggi – logam bass drum memberikan catatan dalam tabla.
Dayan atau Tabla – gendang kayu memberikan catatan treble di tabla.
Lay (atau “Laya”) ‘- tempo.
tala – meter. Contoh: Dadra Tala, Ada Chautal, Teental, dan yang paling umum, keherwa.
Vibhag Bagian dari taal tabla mana bols dapat ditempatkan.
Tali – Sebuah vibhag ditandakan oleh tepuk tangan.
Khalil – A vibhag ditandakan dengan melambaikan tangan.
Ghatta – dowels Kayu digunakan untuk mengontrol ketegangan.

Gitar

Gitar adalah alat musik berdawai yang dimainkan dengan jari-jemari tangan atau sebuah plektrum (alat petik gitar). Bunyinya dihasilkan dari senar-senar yang bergetar.

Gitar bisa berupa gitar akustik atau listrik, atau gabungan keduanya.

Lihat pula

Gitar pertama kali diciptakan oleh Antonio de Torres Juardo yaitu seorang bangsa Spanyol pada abad ke-19. Instrumen ini mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai alat musik solo (melodis) dan sebagai alat musik pengiring (harmonis). Pada tahun 1986 seorang yang berasal dari Inggris bernama Bill Aitken menciptakan inovasi pada gitar yang cukup mengejutkan yaitu menciptakan Synthaxe Guitar. Synthaxe guitar adalah singkatan dari 2 kata yaitu Synthesizer dan Axe, dengan kata lain suara yang dihasilkan dari gitar ini seperti Synthesizer, gitar ini dilengkapi dengan Sensors Strings yaitu sensor senar dan beberapa modul MIDI.

Alat Musik

Alat musik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Alat musik merupakan suatu instrumen yang dibuat atau dimodifikasi untuk tujuan menghasilkan musik. Pada prinsipnya, segala sesuatu yang memproduksi suara, dan dengan cara tertentu bisa diatur oleh musisi, dapat disebut sebagai alat musik. Walaupun demikian, istilah ini umumnya diperuntukkan bagi alat yang khusus ditujukan untuk musik. Bidang ilmu yang mempelajari alat musik disebut organologi.
Alat musik berdasarkan sumber bunyinya
Idiofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari bahan dasarnya. Contoh: kolintang, drum, bongo, kabasa, angklung
Aerofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari hembusan udara pada rongga. Contoh: suling, terompet, harmonika, trombone.
Kordofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari dawai. Contoh: bass, gitar, biola, gitar, sitar, piano, kecapi
Membranofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya dari selaput atau membran. contoh : tifa, drum, kendang, tam-tam, rebana
Elektrofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya dibangkitkan oleh tenaga listrik (elektronik). Contoh : kibor, gitar listrik, bass listrik

Alat musik berdasarkan cara memainkan
Alat musik tiup menghasilkan suara sewaktu suatu kolom udara didalamnya digetarkan. Tinggi rendah nada ditentukan oleh frekuensi gelombang yang dihasilkan terkait dengan panjang kolom udara dan bentuk instrumen, sedangkan timbre dipengaruhi oleh bahan dasar, konstruksi instrumen dan cara menghasilkannya. Contoh alat musik ini adalah terompet dan suling.
Alat musik pukul menghasilkan suara sewaktu dipukul atau ditabuh. Alat musik pukul dibagi menjadi dua yakni bernada dan tidak bernada. Bentuk dan bahan bagian-bagian instrumen serta bentuk rongga getar, jika ada, akan menentukan suara yang dihasilkan instrumen. Contohnya adalah kolintang (bernada), drum (tak bernada), dan bongo (tak bernada).
Alat musik petik menghasilkan suara ketika senar digetarkan melalui dipetik. Tinggi rendah nada dihasilkan dari panjang pendeknya dawai.
Alat musik gesek menghasilkan suara ketika dawai digesek. Seperti alat musik petik, tinggi rendah nada tergantung panjang dan pendek dawai.
[sunting]
Alat musik tekan

Sebenarnya ‘alat musik tekan’ tidak termasuk kategori mana pun. Namun cara menekan rupanya menjadi bagian dari sistem menghasilkan bunyi yang diinginkan. Alat musik tekan memiliki tiga jenis yaitu: menekan untuk memukul, menekan untuk meniup, dan menekan untuk mengaktifkan sistem elektronik. Jadi kalau boleh dikategorikan, ‘alat musik tekan’ antara lain piano akustik (chordofon pukul), organ akustik (aerofon) , acordion (aerofon) dan alat-alat musik elektronik yang menggunakan papan kunci (keyboard).
[sunting]
Alat musik elektronik

Alat musik elektronik menghasilkan suara tiruan dari alat musik aslinya (akustik). Istilah synthesizer dipakai untuk alat musik yang menggunakan papan kunci (keyboard). Sedangkan alat musik elektrik digunakan untuk alat-alat musik yang dilengkapi dengan komponen elektronik. Alat ini cara memainkannya sama dengan alat musik akustik. Misalnya gitar elektrik, drums elektrik, dan bass elektrik.

Single band

Pesatnya perkembangan teknologi digital menyebabkan lahirnya alat-alat perangkat dengan kegunaan yang lebih efesien dan efektif seperti alat musik single band. Alat musik ini sangat praktis karena cukup dimainkan oleh satu orang. Di dalamnya terdapat irama (style), beragam suara, dan fasilitas simple recording. Yamaha menamakan perangkat ini dengan portasound (portable sound). Sementara Roland menyebut sebagai electone (electric tone).

Murahnya harga perangkat dan efesiennya biaya, menyebabkan single band dewasa ini menjadi primadona bagi pihak-pihak yang menginginkan hiburan praktis ekonomis. Jika dibanding dengan full band yang minimal dimainkan oleh 4 orang ditambah sound system berkekuatan besar, maka single band menjadi pilihan alternatif yang cukup terjangkau.

Banjo

Banjo adalah alat musik petik yang dikembangkan oleh budak Afrika di Amerika Serikat, dan merupakan gabungan beberapa alat musik Afrika. Nama banjo umumnya dianggap berasal dari istilah Kimbundu, mbanza. Meski demikian, penelitian menyatakan bahwa istilah ini mungkin berasal dari istilah Senegambia yang menunjuk pada tongkat bambu yang digunakan untuk leher alat musik ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.